Lets Move Up!


Move Up – Jikalau move on sarat akan perjuangan dalam rangka melupakan sang mantan, move up lebih dahsyat lagi, perjuangan dalam rangka meningkatkan perbaikan diri setiap hari, sekecil apapun perubahan itu. Selayaknya prinsip Kaizen yang konon sangat terkenal itu. Lebih jelasnya, move up artinya adalah perubahan ke arah yang lebih baik. 

Seringkali, perubahan yang berdampak pada hal yang permanen pada dasarnya tetap berasal dari internal orang tersebut. Sangat utopis sekali ketika nonton video motivasi, lantas berimplikasi nyata pada perbaikan orang yang menontonnya. Demikian pula ketika ikut dalam workshop, seminar-seminar atau apalah itu namanya.

Bagi saya pribadi sih gitu ya, soalnya perubahan yang dimotori akan ekstern diri, justru tidak bertahan lama, paling lama sebulan, lantas kembali lagi ke suasana hati (yang seringkali terselimuti kabut pekat nan syedih sekali). Pernah sih, gegara de’e, ingin ini itu, eh engga bertahan lama. Berhubung seringkali mengalami pasang surut yang sedemikian kurang ajar dan tak wajar itulah, lantas, saya merenung, merenung di lereng Merapi, berharap ada inspirasi atas semua tanya di hati.

Sempat, sempaaattt terjawab oleh seseorang, tetapi, yah, itu adalah sudut pandang orang itu yang memang luar biasa berbeda dengan pola pikir orang kebanyakan. Bahkan, ada tekad ingin memperbaiki sesuatu tersebut, tetapi apa nyana dan apa daya, lingkungan eksternal kurang dominan menjadi motivasi diri. Ah mungkin karena jiwa ini sudah sedemikian keras dan kolot. Ah, mungkin memang demikian.

Still Looking For

Gimana sih rasanya engga mendapatkan jawaban yang memuaskan hati, padahal pertanyaan itu telah muncul selama beberapa dekade, menghantui selama beberapa bulan, dan menganggu kenikmatan bermimpi. Padahal, inginnya sih senantiasa ngimpiin de’e, sayangnya itu cuman mimpi.

Entah kelak dimasa depan akan terjadi seperti apa, saya sendiri kurang begitu suka merencanakannya, apalagi berusaha membikin jadwal stripping harus ini itu, atau pula memiliki target yang terkalibrasi kualitas dan kuantitas dari setiap kualifikasi target tersebut.

Jujur saja, saya bukan perencana yang baik, tetapi, saya tetap perencana yang paling romantis untuk urusan hidup bersama. #AhSudahlah. Rencana, rencana, rencana, melihat kasusistik yang terjadi pada diri sendiri, nampaknya rencana yang terlalu mendetail hanya akan menjadi semacam bencana.

Tetapi, ketika saya hanya berencana dalam hati, selayaknya rencanaku mencintaimu… Yang ada peristiwa yang asyik terjadi, iseng iseng menulis gegara B*B terlalu nikmat, akhirnya mendapatkan berkat. Akhirnya tahu kapasitas yang selama ini terpendam beberapa puluh milimeter dari lapisan kulit perut terluar. Karya tulis yang selayaknya membutuhkan konsentrasi dan ide karya yang baik, dalam kurang waktu 6 jam sudah selesai terjilid lengkap dengan stempel pos.

Engga ada yang sia-sia didunia ini, keisengan saya kemudian di kasih jalan jalan ke Banyumas kalau tidak salah. Tetapi muter dulu, dateng ke kantor utama PTPN IX yang konon berada di Semarang kota. Makan gratis, jalan jalan gratis, pulang pulang disuruh bawa amplop coklat dan piala yang kemudian pucuknya hilang selama berada di perjalanan. #sukasedih klo inget ini

Lalu pernah juga iseng iseng menyuruh orang untuk ikut ini itu. Padahal selama proses menyuruh orang itu, justru saya sendiri belom melakukannya. Ibarat orator yang suka ngomong banyak, tapi melompong didalam, mungkin lapar karena sarapan kurang. -_-

Alhasil, karena saya dinilai ‘jahat’, akhirnya pun harus terpaksa ke Jakarta, kota dimana impian di tabur, tetapi keruwetan yang di panen. Berada di Jakarta untuk yang pertama kalinya, memang sangat ruwet, apalagi saat itu pakdhe Jokowi masih berada di Solo. Ah, sekarang beliau di istana negara.

Ah, memang saya yang notabene publisher yang belum pernah mempublish buku sendiri, memang diperlakukan kejam. Sudah eneg merasakan metromini yang sumpek, apalagi busway yang berjejalan layaknya ikan-ikan. Duh… Tetapi, selalu ada sisi positifnya, setidaknya pernah berkunjung ke sekitaran Sudirman, yah walau hanya sekedar nyoto bareng Dirman.

Bahkan, pernah jalan jalan di SMESCO yang konon pusatnya UMKM se-Indonesia raya. Yah, gedung yang sampai sekarang masih senantiasa terngiang bentuk shape dan keunikannya. Pernah pula ngegembel di Plaza Mandiri, semua itu memori yang indah, sayangnya kurang ada foto yang menjadi saksi ketika sendal ini pernah menginjak lantai lantai gedung sekitaran Sudirman itu. Eh bener Sudirman ga ya?

The Answer

Sampai detik tulisan ini dibuat, sesampai kurang lebih 600 kata telah tersematkan, saya belum menemukan jawaban atas segala pertanyaan yang selama ini menjadi tanda tanya. Belum ada jawaban yang bukanlah kata mutiara syahdu, belum ada jawaban yang mampu melegakan hati, dan membuka hati.

Selama ini, hanya mencoba berbohong, mengingkari bahwa memang ada sesuatu yang penting yang kurang beres. Seringkali, efek karena sikap acuh acuh itu yang ada hanya rasa sesal yang menggelora. Memang sih, untuk sekejap saja sudah lupa.

Ah, memang menenangkan hati tak semudah memberi obat penenang pada gajah yang mengamuk. Engga semudah itu, walaupun badan saya engga jauh lebih besar daripada badan gajah.

Tetapi…

Setidaknya, selama 13 hari ini, sudah mendapatkan sedikit dari ketenangan yang didamba. Semoga di hari ke 40 sudah mendapatkan jawaban yang memuaskan hati. Hingga hati ini menjadi motor pergerakan atas apapun yang raga ini tuju, atas apapun yang mata ini ingin melihat, atas apapun yang telinga ini dengar. Semoga…

Ketik Aamiin di kolom komentar yak! :3

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s