Alhamdulillah, Wisuda…


Alhamdulillah, wisuda…

Wisudanya siapa? Wisudaku? Ohoho, bukan, teramat sangat bukan. Masih ada sesuatu yang selama ini mengganjal, masih ada hal yang secara hati belum tuntas terdamaikan. Apakah semua itu alasan untuk menunda? Hmm, whateverlah, semua orang berhak berkomentar dan beropini. Selayaknya diriku yang berhak mengacuhkan segala bualanmu. Fair enough! I think.

http://dudung.net/swf/player.swf

Sebagai seseorang yang pernah mengecap bangku perguruan tinggi, awal awal sih terasa nyaman. Seiring berjalannya waktu, ada ragu yang mencuat setelah beberapa semester awal merasa jumawa diri akan status yang disandang. Seringkali jumawa, dan acapkali lupa dengan esensi dari mereka yang konon dijuluki sebagai “mahasiswa”.

Katalisator Perubahan Zaman

Hmm, katalisator? Saya rasa tidak. Mahasiswa jaman sekarang terbuai dengan nyamannya ekosistem yang dibuat oleh perguruan tinggi maupun oleh para konspirator global. Output yang dihasilkan pun beraneka ragam dan secara kualitas? Out of target, tidak memenuhi ekspetasi global dari silabus yang entah berapa dekade.

Kasus riil, lulusan pertanian bekerja di luar sektor non-pertanian? Perbankan misalnya, bukan berarti melarang atau menganggap remeh, tetapi melihat sebagai konseptor, eksekutor dan pihak yang terlibat, tentu akan terasa sangat menggelikan. Ketika awal awal semester harus berjibaku dengan rumus kimiawi, dituntut perlu dalam proses analisis kadar tanah, lantas setelah toga dan hingar bingarnya usai, berkarir ah tidak, bekerja di dunia non pertanian.

Hmm, bukankan mereka yang merancang silabus ini sudah sangat paham tentang mengapa harus begini, begitu, begono atau begiti. Lantas, bukankah pendidikan perguruan tinggi bukan lagi berorientasikan pada manfaat suatu ilmu, tetapi lebih ke arah mengedepankan nilai transkrip, ijazah atau apalah yang saya sendiri belom pernah melihatnya.

Gelisah, bukan Sekedar Galau

Jujur saja, saya gelisah. Melihat begitu banyak distorsi, melihat begitu banyak hal yang sejatinya out of control, keluar dari apa yang selama ini dikonsep. Lantas timbul pertanyaan, adakah selama ini diriku ini berniat melacurkan diri demi selembar kertas itu?

Hmmm, sebagai akademisi, ah itu masa lalu, sebagai seseorang yang pernah menjadi akademisi, nampaknya pernah suatu waktu melacurkan diri demi sebuah nilai. Pernah rasa-rasanya mencontek, ataupun melihat isian rekan sebelah. Pernah pula lebih memilih ‘ngawur’ dan mengisi soal esai dengan nada nada rima yang boleh jadi sangat jauh dibandingkan pujangga kenamaan seperti Kahlil Gibran.

Lantas, adakah dimasa mendatang hendak bermetamorfosa menjadi apa? Atau malah justru tenggelam kedalam ekosistem yang kurang sreg dengan apa yang dirasakan di hati?

Ah, sudahlah…

Human Manipulating dan Social Engineering

Ada saat saat dimana benar-benar bingung, hampa tak tahu harus bagaimana dan akhirnya memilih berbuat yang tidak tidak. Merokok? Huh, nafasku ini terlalu lemah untuk menghisap. Alhasil, human manipulating. Asyik berdiskusi antar hati dan pikiran serta nafsu yang dimanipulasi, entah diri sendiri ataupun orang lain.

Rasa-rasanya lucu ketika tahu ini semua hanya sandiwara belaka demi memanipulasi. Seberapa besar perubahan eksternal terhadap implikasi perubahan hati dan jiwa. Pernah ketawa terbahak bahak, melihat ekspresi ‘kelinci’ yang menurut saya menggelikan untuk kapasitas sebagai manusia yang dianugerahi lingkungan yang baik.

Pernah pula di’curhatin’ yang boleh jadi emang dalam hati, whatever-lah mau bercerita bagaimana. Rasanya asyik ketika menjadi telinga atas keluh kesah orang lain. Sedikit demi sedikit mulai memahami dan lantas mengaplikasikan. Tetapi memang tak mudah, teori memang lebih indah diatas kertas dibandingkan aplikasi riil.

Getaran Diri dan Rekayasa Alam Semesta

Secara metafisika, manusia dan alam semesta merupakan satu kesatuan kolaborasi yang sungguh indah ditataran mikro-perspective. Bagaimana ada seorang manusia yang mampu menggetarkan alam semesta dalam kaitannya realisasi mimpi mimpi yang dicanangkan. Tak jarang pula masalah yang sejatinya sama hanya berubah bentuk dan wujud yang merasuki sebagian orang.

Alhasil, jadilah sedikit demi sedikit mulai terbuka dengan belajar vibrasi. Perihal dunia yang tidak lagi bisa secara sepihak dinilai, atau melihat kebenaran duniawi hanya belahan sisi. Paradoks mulai menjadi hal mafhum, melahirkan sikap yang boleh jadi acuh terhadap urusan orang lain –> bagi segelintir pihak. Tetapi juga secara getaran diri, lebih mendamaikan. Dibandingkan dengan harus lantang dan vokal teriak-teriak “Kamu Kafir Keparat!”

Bahkan ketika melihat sahabat saya selama ini yang dulu semasa masih sama sama menjadi akademisi yang sedikit nakal berbuat onar didalam organisasi mengalami ujiannya tersendiri. Hanya mampu mendoakan dari jauh, karena saya faham, hanya dari dirinyalah sendiri perubahan itu secara permanen berdampak. Bukan justru ikut mengomentari perbuatannya yang bagi sebagian orang itu… ah sudahlah…

Dimana otakmuu seenak saja menggonggong seperti asu.. 

Blank Space Perspective

Alhamdulillah,… Wisuda 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s